10/30/2016

Taiwan drama quote - just you - marry me or not - when I see you again

 Yeaaaa kembali kita chingu,,😁😁😊😉 kali ini yang akan saya posting mengenai quote dari drama-drama Taiwan yang bebaru ini saya tonton .. ga banyak sih sebenarnya... tpi yang paling ngena tuh dramanya si cowo cute mantan anggota fahreinheit,, arhhhhhhhh sypa lagi kalu bukan si magnae imut nan manis dengan tatapan tajam yang menggoda Aaron Yan - tuing tuing,, apa yg terjadi? itu drama jadi sulit untuk ditinggalin lama-lama, pengennya liad si QiYi terus ..
Ada juga drama dari salah satu jajaran romantic couple yaitu Roy Chiu dan Alice Ke yg sebelumnya pernah membintangi drama romantis komedi Office Girl..
yeahhh keren lahh, tp tetap, pasangan yang masih dan masih gue nantikan film mereka lagi adalah si pemilik killer smile, devil Mike Hee dan si queen of sweetness Rainie Yang ...😁😁😆😆😄😍 mereka masih tetap okeee.. walau dah banyak pasangan" manis yg bermunculan skrg..
nahh udh ckup basa-basi yg entah pntg atau tidak bagi chingu" semua,, hehe.. kita liad aja Taiwan Drama Quote dibawah ini... ..


Hidup dengan baik seorang diri, mengapa dua orang akan berjalan bersama, berpegangan tangan dan menuju neraka? - Hao Meng (Marry Me or Not)

Sebaliknya kau hanya menjadiseekor landak ketika berhubungan denganperasaanmu, menutupi sesuatu agar kau tak terluka- Sheng Nan (Marry Me or Not)

Ketika dua orang bersama, itu ditentukan oleh feromon. Hal itu muncul secara alami. Ketika cinta telah terungkap, yang satu melemparnya sedangkan yang lainnya malah memungutnya. (MARRY me or not)

Waktu bukan tolak ukur sebuah hubungan. Bersama dengan seseorang yang tak kamu cintai adalah penghabisan waktu.-Hao Meng (Marry me or not)

Lalu kenapa aku tidak boleh membuat pilihanku sendiri? Kau selalu takut aku akan terluka tapi aku belum pernah merasakan pengalaman hidup? Apa kau sebut ini kehidupan? Ya An (When I see you again)

Kalian berdua saling menunggu satu sama lain, tapi kalian saling menunggu di hari yang salah. Ya Lu (When I see you again)
.
Mereka yang ingin pergi, tidak akan tinggal. Mereka yang ingin tinggal, tidak akan pergi'. Karena dia sudah pergi, itu artinya, dia tidak ingin tinggal lagi. Jika aku terus mengenangnya maka aku hanya akan membebaninya". An Xi (When I see you again)

"Waktu bukan tolak ukur sebuah hubungan. Bersama dengan seseorang yang tak kamu cintai adalah penghabisan waktu” - Hao Meng (Marry me or not)

Dalam cinta, jika kau tidak cukup dalam mencintai seseorang, tidak perduli seberapa banyak alasan kau harus mencintai, seberapa banyak kalian harus bersama, dengan hanya “saya tidak mencintaimu” atau “saya lelah” atau “saya tidak bisa terus lanjut” pada akhirnya kalian akan berpisah. Huan Zhen

Namun, jika kau benar-benar mencintai seseorang, tidak perduli berapa banyak alasan mengapa kalian harus putus, tidak perduli seberapa sulit bagi kalian untuk bersama. Tapi selama ada satu alasan untuk tetap bertahan, tidak ada kesulitan yang akan sesulit itu. Huan Zhen (Taiwan Drama)

Ketika dia mencintai, dia akan mencintai, tanpa syarat, sampai akhir - Huan Zhen (Taiwan Drama)

Berjanjilah kalau kau tidak akan jadi workaholic. Jadilah seperti kau hari ini, melakukan sesuatu yang membuatmu bahagia. Liang Liang (Just You)

Hari ini matahari bersinar sangat cerah. Langit sangat biru dan udara sangat hangat. Liang Liang (Just You)

Aku tidak akan takut, aku tidak akan pergi karena aku mencintainya. Jadi, aku tidak akan pernah mengalah padamu. Liang Liang (Just You)

jika kita melepaskan kebahagiaan kita lalu bagaimana kita bisa membiarkan orang lain untuk bahagia? Liang Liang (Just You)

#fnk farra nara kudo

10/23/2016

Wasiat Rasulullah Untuk Umatnya Di Akhir Zaman



Wasiat Rasulullah Untuk Umatnya Di Akhir Zaman

Al Imam Abu Dawud meriwayatkan dari sahabat yang mulia Al ‘Irbadh bin Sariyah radliallahu anhu, bahwa ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menasihatkan kepada kami dengan satu nasihat yang menggetarkan hati-hati kami dan air mata pun berlinang karenanya. Maka ketika itu kami mengatakan: “Duhai Rasulullah, nasihat ini seperti nasihat orang yang mau mengucapkan selamat tinggal, karena itu berilah wasiat kepada kami.” Beliau pun bersabda:
“Aku wasiatkan kepada kalian bertakwa kepada Allah, untuk mendengar dan taat, walaupun yang memerintah kalian itu seorang budak. Dan barangsiapa di antara kalian yang masih hidup sepeninggalku, niscaya dia akan melihat perselisihan yang banyak. Karena itu wajib atas kalian untuk berpegang dengan sunnahku dan sunnahnya Al Khulafa’ Ar Rasyidin yang mendapatkan petunjuk. Pegang erat-erat sunnah itu dengan gigi geraham kalian. Dan hati-hati kalian dari perkara-perkara baru, karena setiap perkara baru ( bid‘ah) itu sesat.” (HR. Abu Dawud no. 3991)
Kandungan Hadits
Allah Subhanahu Wa Ta’ala memerintahkan kepada Nabi-Nya :
“Berilah nasihat kepada mereka dan katakanlah kepada mereka ucapan yang bisa dipahami, mengena dan menancap di jiwa-jiwa mereka.” (An Nisa’: 63)
Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memiliki sifat selalu memberikan bimbingan kepada jalan yang lurus terhadap siapa saja dari kalangan umatnya, sehingga ketika para sahabatnya meminta agar beliau memberikan nasihat maka beliau pun memenuhinya diiringi dengan hikmah.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ketika menyampaikan nasihat senantiasa memilih kata-kata yang tepat, lafadz yang indah, mengena di hati dan menancap dengan dalam. Beliau tidak menyampaikan nasihat dengan kalimat yang panjang lagi bertele-tele, namun cukup dengan kalimat yang ringkas namun mencakup dan dimengerti. Karena itulah beliau dikenal oleh para sahabatnya sebagai orang yang memiliki jawami`ul kalim (perkataan yang ringkas namun padat). Sebagaimana sabda beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:
“Aku diutus dengan jawami‘ul kalim.” (HR. Al Bukhari no. 2977 dan Muslim no. 523)
‘Ammar bin Yasir radliallahu anhu pernah menyampaikan khutbah dengan ringkas dan dipenuhi dengan kata-kata yang tepat, ibarat yang indah dan menancap di hati. Seusai khutbah, ada seseorang yang menegurnya. Maka ‘Ammar pun menanggapi dengan jawaban yang tepat: “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
“Sesungguhnya panjangnya shalat seseorang dan ringkasnya khutbahnya merupakan tanda kefaqihannya. Karena itu panjangkanlah shalat dan ringkaskanlah khutbah. Sesungguhnya di antara penyampaian dan ucapan ada yang membuat orang tersihir.” (HR. Muslim no. 869)
Nasihat yang disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ketika itu sangatlah menancap di hati para sahabatnya hingga hati mereka bergetar dan air mata mereka pun berlinang karenanya. Inilah sifat kaum mukminin tatkala mendengar nasihat dari Allah dan Rasul-Nya, sebagaimana firman-Nya:
“Hanyalah yang dikatakan orang-orang beriman itu adalah mereka yang ketika disebut nama Allah bergetar hati-hati mereka.” (Al Anfal: 2)
“Dan apabila mereka mendengar apa yang diturunkan kepada Rasul, engkau akan melihat mereka berlinangan air mata karena apa yang mereka ketahui dari kebenaran.” (Al Maidah: 83)
Demikianlah nasihat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, yang seolah-olah beliau akan pergi meninggalkan mereka dengan memberikan nasihat perpisahan. Sebagaimana yang telah diketahui, orang yang akan pergi jauh tidak akan meninggalkan sesuatu yang penting kecuali disampaikan dan dipesankannya. (Tuhfatul Ahwadzi, 7/366, ‘Aunul Ma`bud, 12/234).
Kandungan Wasiat Penting Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam
Setelah mendengar nasihat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, para sahabat pun khawatir mereka tidak akan bertemu lagi dengan Rasulullah setelahnya, sehingga untuk menyempurnakan nasihat yang ada, mereka meminta wasiat beliau, seraya berkata: “Wahai Rasulullah, seakan-akan ini nasihat orang yang akan berpisah, karena itu berilah wasiat kepada kami.” Beliau pun memberikan wasiat, di antaranya:
1.  Wasiat untuk Takwa kepada Allah
Takwa merupakan pokok kebaikan dan inti dari segala perkara. Seluruh seruan kepada pintu kebaikan maupun larangan kepada kejelekan terkumpul dalam kalimat takwa ini.
Takwa ini pula merupakan wasiat Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepada orang-orang terdahulu maupun yang belakangan, sebagaimana dalam firman-Nya:
“Sungguh Kami telah mewasiatkan kepada orang-orang yang diberikan Al Kitab sebelummu dan juga kepada kalian agar bertakwa kepada Allah.” (An Nisa: 131)
Kita diperintah oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk berbekal dengannya sebagaimana firman-Nya:
“Berbekallah kalian, maka sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (Al Baqarah: 197)
Oleh karena itu terkumpul dalam takwa ini kebaikan dunia dan akhirat.
2.  Wasiat untuk Mendengar dan Taat 
Yang dimaksud dengan mendengar dan taat oleh beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam di sini adalah kepada para pemimpin kaum muslimin, karena taat kepada mereka akan membawa kepada kebahagiaan dunia dan akhirat. Dimana dengan mentaati mereka akan baiklah kehidupan orang-orang yang dipimpin (rakyat) dan menjadi amanlah negeri, di samping juga dapat membantu menegakkan agama mereka.
Hal ini merupakan kewajiban agama karena Allah telah berfirman:
“Taatlah kalian kepada Allah dan taatlah kalian kepada Rasulullah dan kepada pemimpin di antara kalian.” (An Nisa’: 59)
Kewajiban mendengar dan taat ini tetap berlaku bahkan ketika yang menjadi pemimpin itu seorang budak sekalipun. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah berpesan: “Tetaplah kalian mendengar dan taat sekalipun yang memimpin kalian itu seorang budak Habasyah (Ethopia) yang rambutnya seperti kismis.” (HR. Al Bukhari dari Anas bin Malik no. 7142 dan Muslim dari Abu Dzarr no. 648)
Al Imam Ibnu Daqiqil ‘Ied rahimahullah menyatakan bahwa sebagian ulama berkata: “Seorang budak tidak bisa menjadi pemimpin, akan tetapi penyebutan pemimpin dari kalangan budak dalam hadits ini hanyalah sekedar permisalan walaupun tidak mungkin terjadi, sama halnya dengan sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam: “Siapa yang membangun masjid untuk Allah walaupun besarnya hanya seperti sarang burung maka Allah akan membangunkan untuknya sebuah rumah di surga.” Dan telah diketahui bahwa ukuran sarang burung tidak mungkin dapat digunakan oleh manusia sebagai masjid, akan tetapi di sini hanya didatangkan sebagai permisalan.”
Dimungkinkan pula di sini Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ingin mengabarkan rusaknya perkara apabila diserahkan urusan kepada selain ahlinya, sampai akhirnya kepemimpinan diserahkan kepada seorang budak (yang dia bukan ahlinya). Sehingga andaikan permisalan yang disebutkan itu terjadi, tetaplah kalian mendengar dan taat (dalam rangka menolak kemudharatan yang lebih besar walaupun) terpaksa menempuh kemudharatan yang lebih ringan di antara dua kemudharatan yang ada, dengan bersabar atas kepemimpinan seseorang yang sebenarnya tidak boleh menjadi pemimpin. Yang mana apabila membangkang kepadanya akan mengantarkan kepada fitnah yang besar.” (Syarhul Arba’in An Nawawiyyah, hal. 75)
Tentunya ketaatan kepada pemimpin itu sebatas dalam perkara yang ma‘ruf (kebaikan), tanpa melanggar hak Allah Subhanahu Wa Ta’ala, karena Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Ketaatan itu hanyalah dalam perkara kebaikan.” (HR. Al Bukhari no. 4340 dan Muslim no. 1840)
3. Wasiat untuk Berpegang Teguh dengan Sunnah
Nabi Shallallahu alaihi wasallam mengatakan: “Siapa di antara kalian yang masih hidup sepeninggalku niscaya dia akan melihat perselisihan yang banyak. Karena itu wajib atas kalian untuk berpegang dengan sunnahku dan sunnahnya Al Khulafa’ Ar Rasyidin yang mendapatkan petunjuk. Gigit/pegang erat-erat sunnah itu dengan gigi geraham kalian.”
Ini merupakan salah satu tanda di antara tanda-tanda kenabian beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, di mana beliau mengabarkan kepada para sahabatnya tentang perkara yang akan datang sepeninggalnya, yakni akan terjadi perselisihan yang banyak di kalangan umat beliau. Hal ini sesuai dengan pengabaran beliau bahwasanya umat ini akan berpecah belah menjadi 70 lebih golongan, semuanya masuk neraka kecuali satu yang selamat yaitu mereka yang berpegang dengan apa yang dipegangi oleh Rasulullah dan para sahabatnya. (Shahih Sunan At Tirmidzi, no.2129)
Karena itulah, sebagai bahtera penyelamat dari gelombang perselisihan dan perpecahan ini adalah berpegang teguh dengan sunnah beliau dan para Al Khulafa’ Ar Rasyidin. Saking kuatnya keharusan berpegang tersebut hingga diibaratkan seperti menggigit dengan geraham (Jami’ul ‘Ulum, 2/126). Ditambahkan oleh Syaikhul Islam bahwa dikhususkannya penyebutan geraham dalam hadits ini karena gigitan gigi geraham ini sangat kokoh. (Majmu` Fatawa, 22/225).
Kata Al Imam As Sindi: “Hal ini menunjukkan keharusan untuk bersabar terhadap kepayahan yang menimpanya di jalan Allah, sebagaimana yang harus dihadapi orang yang sakit terhadap derita yang menimpanya dari sakitnya.” (Syarah Ibnu Majah, Al Imam As Sindi).
Adapun sunnah yang dimaksudkan dalam sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ini adalah jalan hidup beliau yang lurus dan jelas. (Syarhul Arba’in, hal. 75).
Selain mengikuti Sunnah beliau, diperintahkan pula setelahnya untuk memegangi sunnahnya Al Khulafa’ Ar Rasyidin dan mereka yang dimaksud di sini adalah Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali radliyallahu ‘anhum, kata Ibnu Daqiqil `Ied. Para khalifah ini disifatkan dengan (Ar Rasyidin) karena mereka mengetahui, mengenali kebenaran dan memutuskan dengannya. Mereka adalah (Al Mahdiyyin) karena Allah telah memberi petunjuk mereka kepada kebenaran dan tidak menyesatkan mereka dari kebenaran tersebut. (Syarhul Arba’in, hal. 75, Jami`ul ‘Ulum, 1/127)
Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menggandengkan sunnah Al Khulafa’ Ar Rasyidin dengan Sunnah beliau karena para khalifah ini tatkala menetapkan sunnah bisa jadi mengikuti Sunnah Nabi itu sendiri, dan bisa pula mereka mengikuti apa yang mereka pahami dari Sunnah Nabi secara global dan rinci, yang mana perkara tersebut tersembunyi bagi yang lainnya. (Al I’tisham, 1/118)
Al Imam Asy Syaukani dalam Al Fathur Rabbani mengatakan: “Sunnah adalah jalan yang ditempuh, sehingga seakan-akan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: ‘Tempuhlah jalanku dan jalannya Al Khulafa’ Ar Rasyidin’. Jalannya Al Khulafa’ Ar Rasyidin di sini sama dengan jalannya Rasulullah karena mereka merupakan orang yang paling bersemangat dalam berpegang dengan Sunnah beliau dan mengamalkannya dalam segala perkara. Bagaimana pun keadaannya, mereka sangatlah berhati-hati dan menjaga diri agar tidak sampai jatuh ke dalam perkara yang menyelisihi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, sekalipun dalam perkara yang terbilang kecil, terlebih lagi dalam perkara yang besar.”
Beliau kemudian melanjutkan: “Minimal dari faidah hadits ini adalah ra`yu (pendapat) yang bersumber dari mereka adalah lebih utama dari pendapat orang selain mereka, sekalipun ternyata setelah ditinjau kembali hal itu merupakan Sunnah Rasulullah, dan juga lebih baik daripada tidak ada dalil.” (Dinukil dari Tuhfatul Ahwadzi, 7/367)
4  Wasiat untuk Berhati-hati dari Bid‘ah
Ucapan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:“Hati-hati kalian dari perkara-perkara baru”, merupakan peringatan kepada umat beliau dari perkara baru yang diada-adakan lalu disandarkan kepada agama sementara perkara tersebut tidak ada asalnya sama sekali di dalam syariat ini. Dan beliau tekankan lagi peringatan beliau ini dengan sabdanya: “ karena setiap bid`ah itu sesat”.
Adapun ucapan para ulama yang menganggap baik sebagian bid‘ah maka kembalinya hal tersebut kepada pengertian bid‘ah secara bahasa bukan bid‘ah menurut syariat. Seperti perkataan Umar radliallahu anhu ketika melihat kaum muslimin shalat tarawih berjamaah dipimpin seorang imam, ia berucap: “Sebaik-baik bid‘ah adalah perbuatan ini.”
Shalat tarawih berjamaah ini bukanlah bid‘ah dalam pengertian syar‘i karena perbuatan ini telah ada asalnya dalam syariat, di mana Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah melakukannya bersama para sahabat selama beberapa malam dari malam-malam Ramadhan. Adapun Umar hanya menghidupkannya kembali setelah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tidak melanjutkan pelaksanaannya karena khawatir perkara tersebut akan diwajibkan kepada umat beliau, sementara mungkin ada di antara mereka yang tidak mampu melaksanakannya.
Wallahu ta‘ala a‘lam bish shawaab
Penjelasan Riwayat Hadits
Al Hafidz Abu Nu‘aim berkata: “Hadits ini jayyid (bagus), termasuk hadits yang shahih dari periwayatan orang-orang Syam.” Beliau juga mengatakan: “Al Bukhari dan Muslim meninggalkan hadits ini (yakni tidak memuat dalam kitab shahih mereka) bukan karena mengingkarinya.”
Al Hakim menyatakan, Al Bukhari dan Muslim meninggalkan penyebutan hadits ini disebabkan anggapan yang keliru dari keduanya bahwa tidak ada seorang rawi pun yang meriwayatkan dari Khalid bin Ma‘dan kecuali Ats Tsaur bin Yazid, padahal sebenarnya ada perawi lain yang meriwayatkan dari Khalid seperti Buhair bin Sa‘ad, Muhammad bin Ibrahim At Taimi dan selain keduanya.
Namun pernyataan Al Hakim ini dijawab oleh Al Hafidz Ibnu Rajab: “Sebenarnya hal ini tidaklah seperti persangkaan Al Hakim. Adapun Al Bukhari dan Muslim tidak mengambil hadits ini karena hadits ini tidak memenuhi syarat mereka berdua di dalam kitab shahihnya, di mana Al Bukhari dan Muslim sama sekali tidak mengeluarkan dalam shahihnya riwayat dari Abdurrrahman bin Amr As Sulami dan dari Hujr Al Kala`i. Dan juga dua orang rawi yang disebut ini tidaklah terkenal (masyhur) dalam keilmuan dan periwayatan hadits.”
Adapun Abdurrahman As Sulami, salah seorang perawi dalam hadits ini, maka ia masturul hal (keadaannya tidak diketahui), walaupun telah meriwayatkan darinya jama‘ah (sekelompok orang) namun tidak ada seorang alim yang mu‘tabar (teranggap dan diakui keilmuannya) yang men-tsiqah-kannya (menganggapnya terpercaya). Ibnul Qaththan Al Fasi mendha’ifkan (melemahkan) hadits ini karena hal tersebut.
Demikian pula dengan Hujr bin Hujr Al Kala‘i, tidak ada yang meriwayatkan darinya kecuali Khalid bin Ma‘dan dan tidak ada seorang alim yang mu‘tabar yang men-tsiqah- kannya, sehingga ia dinyatakan majhulul ‘ain (rawi yang tidak dikenal). Berkata Ibnul Qaththan: “Orang ini tidak dikenal.” Namun sebagaimana kata Al Imam Al Hakim di atas, hadits ini diriwayatkan juga dari selain mereka berdua dan disebutkan jalan-jalannya yang saling menguatkan satu dengan lainnya oleh Al-Hafidz Ibnu Rajab dalam kitabnya Jami’ul ‘Ulum, maka hadits ini hasan. Penghasanan hadits ini dinyatakan oleh Syaikhuna Muqbil bin Hadi Al Wadi‘i rahimahullah, walaupun ada sebagian ulama yang menshahihkannya, sehingga mereka bersepakat bahwa hadits ini bisa dijadikan sebagai hujjah (dalil atau argumen), kecuali Ibnul Qaththan Al Fasi yang mendha’ifkan hadits ini.
(As Sunnah Ibnu Abi Ashim, no. 27, Ash Shahihul Musnad, 2/71, Jami‘ul ‘Ulum wal Hikam, 2/110, Mizanul I’tidal, 2/207, Tahdzibut Tahdzib, 2/188, 6/215).
Sumber :  Merujuk pada tulisan Al Ustadz Muslim Abu Ishaq Al Atsary, dengan judul asli “Nasehat Nan Penuh Kenangan”, Majalah Asy Syariah. Untuk membaca aslinya silahkan klik di  http://asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=92


1.  Tiga perkara yang mesti dijauhi: 
Telah bersabda Nabi Muhammad SAW yang artinya:
  • " Barang siapa yang bangun di waktu pagi sambil ber sungut-sungut karena kesusahan hidup, maka seolah-olah ia bersungut karena perbuatan Tuhannya ". 
  • Barang siapa menjadi sedih karena perkara perkara dunia berarti ia telah marah kepada Allah.
  • Dan barang siapa merendahkan dirinya kepada orang kaya karena kekayaanya maka telah hilang dua pertiga agamanya.

2.  Empat perkara yang berharga dalam diri manusia:
Telah bersabda Nabi Muhammad SAW yang artinya:

"Ada empat macam yang berharga dalam diri manusia dan ia bisa hilang dengan empat sebab. Adapun yang berharga itu ialah akal, agama, malu dan amal soleh. Maka akal bisa hilang disebabkan marah. Agama bisa hilang disebabkan dengki.
Malu bisa hilang disebabkan tamak dan amal soleh bisa terhapus disebabkan suka menceritakan keburukan orang lain."

3. Lima macam yang dicintai dan lima perkara yang dilupakan:
Nabi Muhammad SAW telah bersabda yang artinya:
“Akan datang satu masa pada umatku, ketika itu mereka mencintai lima macam dan melupakan lima perkara yaitu:
1. Mereka mencintai dunia dan lupa akhirat.
2. Mereka mencintai kehidupan dan lupa pada kematian.
3. Mereka cinta pada istana dan lupa pada kuburan.
4. Mereka cinta harta dan lupa pada perhitungan di akhirat.
5. Dan mereka cinta kepada makhluk dan lupa kepada Allah.”
4. Cantiknya iman dan amal soleh

Pernah diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda yang artinya:
“Ada dua macam yang tiada sesuatu yang lebih baik dari keduanya:
1. Beriman kepada Allah.
2. Memberi manfaat kepada muslimin.

Dan ada dua macam yang tiada sesuatu yang lebih buruk dari keduanya:
1. Mensyirikkan Allah.
2. Menyakiti kaum muslimin.”

Usman Al Affan berkata:
“Perkara yang paling sia-sia itu ada sepuluh macam yaitu: orang alim yang tidak dapat dijadikan tempat bertanya, ilmu yang tidak diamalkan, pendapat benar yang tidak diterima, senjata yang tidak dipakai, masjid yang tidak digunakan untuk tempat solat, mushaf yang tidak dibaca, harta yang tidak diinfakkan, kuda yang tidak ditunggangi, pengetahuan tentang zuhud yang ada pada hati orang yang cinta dunia dan umur yang panjang yang tidak dipakai untuk bekal perjalanan menuju kampung akhirat.”

Abu Darda mengatakan, 
Cukuplah mengukur hinanya dunia, Sebab maksiat hanya ada di dunia.Dan tidak akan mendapatkan keridhaan Allah kecuali dengan meninggalkan dunia dan berkata pula orang arif, Dunia ini ibarat bangkai yang telah membusuk. Barang siapa menghendaki itu, harus sabar bergaul dengan anjing-anjing

Sufyan bin Uyainah berkata kepada ats-Tsauri,Berilah saya wasiat. 
Jawab ats-Tsauri, “Kurangi pergaulanmu dengan orang lain”. 

Nah bukankah telah diterangkan dalam hadist agar kita memperbanyak kenalan seperti Hadist riwayat Hakim dari Sayyidina Anas ra: Perbanyaklah berkenalan dengan orang mukmin.
Sebab pada setiap mukmin terdapat syafaat pada hari kiamat kelak. 

Jawab ats Tsauri,Ya.. tetapi engkau tdk akan menemukan kekecewaan kecuali dari orang-orang yang engkau kenal.

Sufyan bin Uyainah berkata,Hal itu aku benarkan






Gangguan Jin & Sihir (1) : Alasan-alasan Jin Untuk Merasuki Manusia, dan Cara Jin Menampakkan Diri Pada Manusia

Rasul yang mulia shalallahu alaihi wassalam pernah bersabda,
“Tidaklah aku tinggalkan sepeninggalku ujian yang lebih berbahaya bagi lelaki daripada fitnah wanita.” (HR. al-Bukhari no. 5096 dan Muslim no. 6880)
Demikianlah memang, jenis perempuan menempati peringkat pertama dari sekian kesenangan dunia yang sangat menggoda kaum Adam. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
“Dijadikan indah pada pandangan manusia kecintaan kepada syahwat yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (Ali Imran: 14)
Al-Hafizh Ibnu Katsir t menerangkan, “Allah Subhanahu wata’ala mengabarkan tentang perkara yang dijadikan indah pada pandangan manusia dalam kehidupan dunia ini berupa berbagai macam kelezatan, dari jenis wanita, anak-anak, (dan lainnya). Allah Subhanahu wata’ala memulai dengan penyebutan wanita karena fitnah yang didapatkan dari mereka amat besar, sebagaimana disebutkan di dalam hadits.” (Tafsir Ibni Katsir, 2/15)
Hampir-hampir tidak ada lelaki yang dapat selamat dari fitnah yang dilihatnya di setiap tempat ini, apakah di jalan, di televisi, di internet, di majalah, di tempat kerja, di pasar, dan di tempat-tempat lain. Yang dilihat bukan wanita yang rapat menutup aurat bahkan sebaliknya mengumbar aurat. Kalaupun ada yang berusaha menutup aurat, namun jauh dari aturan busana muslimah yang syar’i dengan model kerudung dua warna atau yang diberi pernak-pernik dengan gelungan rambut yang diangkat tinggi di baliknya (model punuk unta, -red.), dan baju panjang sampai mata kaki dengan bordiran atau hiasan lain di sana-sini, misalnya. Sungguh, penampilan tabarruj yang dilarang oleh Allah Subhanahu wata’ala.
Adalah sukses besar apabila ada lelaki yang selamat dari godaan wanita cantik, bukan karena si lelaki melihat tidak ada peluang ke arah sana atau situasi kondisi tidak mendukung, namun ia menolak karena takut kepada Allah Subhanahu wata’ala. Maka dari itu, keutamaan yang agung bagi Nabi Yusuf ‘alaihi salam saat beliau menolak ajakan berzina dari istri al-Aziz, pembesar Mesir, yang jatuh cinta kepadanya. Dalam posisi wanita itu bukan perempuan biasa dan beliau sendiri adalah seorang pemuda yang sedang mencapai puncak jiwa mudanya yang biasanya punya kecenderungan syahwat yang besar terhadap wanita, apatah lagi si wanita jelita telah berserah diri….
Karena itu, pantas sekali lelaki yang bisa berbuat demikian mendapatkan janji beroleh naungan pada hari kiamat, di saat tidak ada naungan selain naungan Allah Subhanahu wata’ala  . Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda,
“ Ada tujuh golongan yang Allah Subhanahu wata’alanaungi dalam naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan selain naungan-Nya. (Di antaranya) seorang lelaki yang diajak berzina oleh seorang wanita yang punya kedudukan dan kecantikan namun ia menolak dengan berkata, “Aku takut kepada Allah Subhanahu wata’ala  .” (HR. al-Bukhari no. 6806 dan Muslim no. 2377)

Menghadapi dahsyatnya fitnah wanita yang seakan mengepung kaum lelaki, ada beberapa cara yang bisa ditempuh agar kita selamat darinya dengan pertolongan Allah Subhanahu wata’ala  1, di antaranya:
1. Beriman kepada Allah Subhanahu wata’ala dan takut kepada-Nya
Iman kepada Allah Subhanahu wata’ala dan takut kepada-Nya merupakan tali kekang yang menahan seorang hamba dari berbuat haram dan menceburkan diri ke dalam lumpur hitam syahwat.
Apabila seorang mukmin tumbuh dengan merasakan pengawasan Allah Subhanahu wata’alaserta menelaah rahasia dari nama-nama dan sifat-sifat-Nya seperti al-Alim (Maha Berilmu), as-Sami’ (Maha Mendengar), al-Bashir (Maha Melihat), ar-Raqib (Maha Mengawasi), asy-Syahid (Maha Mempersaksikan), al-Hasib (Maha Menghitung), al-Hafizh (Maha Menjaga), dan al-Muhith (Maha Meliputi), niscaya akan membuahkan rasa takut kepada-Nya dalam keadaan rahasia/tersembunyi ataupun terang-terangan di tengah banyak orang. Hal itu juga akan membuat si hamba berhenti dari berbuat maksiat, dan menghalangi dirinya menerima ajakan syahwat yang arah menuju kejelekannya demikian kuat.
2. Menundukkan pandangan dari melihat yang haram
Pandangan mata akan membuat lintasan-lintasan buruk di dalam hati, lalu betikan/lintasan tersebut meningkat menjadi pikiran, kemudian naik menjadi syahwat, lalu muncullah keinginan buruk. Bila bertambah kuat tanpa bisa dikendalikan, jatuhlah pelakunya ke dalam perbuatan yang haram.
Perhatikanlah ayat berikut ini, bagaimana Allah Subhanahu wata’ala menggandengkan pandangan mata kepada yang haram dengan penjagaan kemaluan.
“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangan mereka dan memelihara kemaluan mereka….” (an-Nur: 30)
Al-Hafizh Ibnu Katsir t mengatakan, “Ini adalah perintah Allah Subhanahu wata’alakepada para hamba-Nya yang beriman agar menundukkan sebagian pandangan mata mereka dari hal yang diharamkan atas mereka, sehingga mereka tidak memandang selain sesuatu yang dibolehkan bagi mereka dan agar mereka menundukkan pandangan mereka dari hal yang haram. Apabila secara tidak sengaja pandangan mata jatuh pada yang haram, hendaklah ia segera memalingkannya.” (Tafsir Ibni Katsir, 5/396)
Jarir bin Abdillah al-Bajali z berkata, “Aku pernah menanyakan kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam tentang pandangan yang tiba-tiba (tanpa sengaja), maka beliau memerintahkan aku agar memalingkan pandanganku.” (HR. Muslim)
3. Menolak lintasan hati yang jelek
Perkara jelek yang terlintas dalam hati sungguh berbahaya. Ketika betikan itu datang pada seseorang lalu ia tidak berusaha menepisnya maka akan meningkat menjadi pikiran, lalu keinginan, selanjutnya tekad yang kuat, kemudian perbuatan yang haram.
Maka dari itu, berhati-hatilah membiarkan niatan jelek terlintas di hati. Seharusnya hal itu ditolak dan diganti dengan betikan hati yang baik.
Dengan demikian, cara mengobati bila muncul niatan yang buruk adalah dengan bersegera menepisnya dan menyibukkan jiwa dengan memikirkan hal yang bermanfaat baginya.
4. Menikah
Abdullah ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu berkata bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda,
“Wahai sekalian pemuda! Siapa di antara kalian yang memiliki kemampuan, hendaknya dia menikah, karena menikah akan lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barang siapa yang belum mampu, hendaknya dia berpuasa, karena puasa adalah tameng baginya….” (HR. al-Bukhari no. 5065 dan Muslim no. 3384)
5. Berpuasa bagi yang belum mampu menikah
Ini berdasarkan hadits yang disebutkan di atas. Al-Imam al-Qurthubi t berkata, “Apabila sedikit makan, syahwat pun lemah. Apabila syahwat lemah, sedikitlah maksiat.”
6. Menjauh dari teman-teman yang buruk.
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda,
“Seseorang itu sesuai dengan agama sahabatnya, maka hendaknya salah seorang dari kalian melihat dengan siapa dia bersahabat.” (HR. Abu Dawud no. 4193, dinyatakan hasan oleh al-Imam al-Albani t dalam Shahih Abi Dawud)
Oleh karena itu, seseorang harus pandai-pandai memilih teman dan hati-hati dalam bergaul. Jangan sampai ia berteman dengan seseorang yang akan menyeretnya ke dalam perbuatan dosa. Betapa banyak orang yang semula dikenal sebagai orang baik-baik, namun karena pengaruh teman, ia menjadi orang yang jelek.
7. Menjauh dari tempat-tempat godaan/cobaan
Tidak tersembunyi bagi kita bahwa sekarang ini kita hidup di tengah masyarakat yang dikepung oleh godaan dari segala arah, baik bersumber dari media massa, poster-poster di jalanan, iklan-iklan, wanita-wanita yang berpakaian tetapi telanjang di hampir setiap tempat, produk-produk yang memajang gambar/model wanita; di bungkus sabun, kemasan shampo, pasta gigi, produk makanan dan minuman, dan sebagainya.
Oleh karena itu, berusahalah menjauh darinya agar selamat. Bagaimana caranya? Salah satunya seperti yang telah disebutkan di atas: menundukkan pandangan.
Wallahul musta’an, mohonlah pertolongan kepada Allah Subhanahu wata’aladari badai fitnah di sekeliling kita.
8. Bersemangat mengisi waktu dengan ketaatan kepada Allah Subhanahu wata’ala
Waktu adalah nikmat yang sangat agung dari sekian nikmat Allah Subhanahu wata’alayang diberikan-Nya kepada para hamba. Akan tetapi, banyak orang yang melalaikannya. Ibnu Abbas c berkata bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda,
“Ada dua kenikmatan yang kebanyakan orang merugi (terhalang dari mendapat kebaikan dan pahala) di dalamnya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. al-Bukhari no. 6412)
Fadhilatusy Syaikh Ibnu Utsaimin t menasihatkan, “Sepantasnya insan yang berakal memanfaatkan waktu sehat dan waktu luangnya untuk melaksanakan ketaatan kepada Allah k sesuai dengan kemampuannya. Jika ia dapat membaca al-Qur’an, hendaknya ia memperbanyak bacaannya. Apabila ia tidak pandai membacanya, hendaknya ia memperbanyak zikir kepada Allah Subhanahu wata’ala(sambil berusaha belajar membaca al-Qur’an tentunya, –pen.). Apabila tidak, ia melakukan amar ma’ruf nahi mungkar atau mencurahkan kemampuannya untuk membantu dan beramal kebaikan kepada saudara-saudaranya. Semua ini adalah kebaikan yang banyak, namun terluputkan dari kita.” (Syarhu Riyadhis Shalihin, 1/452)
9. Mengingat nikmat akhirat
Khususnya adalah mengingat kebaikan yang disiapkan oleh Allah Subhanahu wata’aladi surga kelak bagi insan beriman yang bersabar menjauhi maksiat, yaitu hurun ‘in (bidadari surga yang bermata jeli) dengan segala sifatnya yang sangat istimewa. Mereka tidak bisa dibandingkan sama sekali dengan perempuan-perempuan yang dilihatnya di dunia, secantik apa pun.
Semoga tulisan ini membantu seorang muslim untuk bersikap zuhud dari mengejar dan menceburkan diri ke dalam “nikmat dunia” yang fana lagi diharamkan, yang tidak mewariskan selain kerugian dan penyesalan.
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.
Sumber :
Kiat Menghadapi Ujian Wanita, Kategori: Majalah AsySyariah Edisi 079
(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu ‘Ishaq al-Atsariyah)

Surah tentang Kiamat



Surah tentang kiamat
Hari Kiamat,
apakah hari Kiamat itu?
Tahukah kamu apakah hari Kiamat itu?
Pada hari itu manusia adalah seperti anai-anai yang bertebaran,
dan gunung-gunung adalah seperti kapas yang terbusar.
Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya,
maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan.
Dan adapun orang-orang yang ringan timbangannya,
maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah.
Tahukah kamu apakah neraka Hawiyah itu?
(Yaitu) api yang sangat panas.
Surah ini dinamakan dengan Al Qaari’ah karena dimulai dengan kata Al Qaari’ah untuk membuat mengerikan dan memberi rasa takut sebagaimana surah Al Haqqah dan Al Ghasyiyah di awali dengan kedua kata itu. Karena surah ini mengetuk hati dengan keras hingga mengagetkannya dengan keadaan mengerikan.
Tatkala surah Al Adiyat ditutup dengan gambaran hari kiamat pada firman Allah Ta’ala :
“maka apakah Dia tidak mengetahui jika dibangkitkan apa yang di dalam kubur. Dan dilahirkan apa yang ada di dalam dada. Sesungguhnya Tuhan mereka pada hari itu Maha Mengetahui tentang diri mereka”
Surah ini termasuk Makkiyyah. Temanya adalah pemberitahuan tentang sebagian kejadian hari kiamat yang mengerikan yang mengerikan dan membuat takut pada kejadian itu.
Penjelasan kosa kata
“Al Qaari’ah”
Al Qari’ah merupakan salah satu nama hari kiamat, karena dia mengetuk dengan keras hati dan pendengaran dengan kejadiannya yang mengerikan dan mengagetkan. Dari kata Qara’ yang berarti memukul dengan keras.
“Tahukah kamu apakah Al Qaari’ah itu”
Pertanyaan ini untuk membuat takut, karena ia adalah sesuatu yang tidak diketahui keadaanya. Allah Ta’ala mengulangi pertanyaan seperti itu sebagai tambahan tentang teramat sangatnya rasa takut saat itu.
Pada hari itu manusia adalah seperti  “Anai – anai yang bertebaran”
Ia adalah binatang terbang yang bodoh yang (sengaja datang dan) berjatuhan ke dalam api
“Bertebaran”
Yang tersebar terpisah – terpisah dalam jumlah yang banyak, ke sana-sini, dalam keadaan hina, saling menabrak, mereka saling berlari dan saling menginjak karena bingung.
“Dan gunung – gunung seperti kapas yang terbusar”
Dalam keadaannya yang sangat mudah diterbangkan dan berhamburan menjadi rata dengan tanah.
Dan adapun orang-orang yang “berat timbangannya”  (kebaikan)nya
Lebih berat kebaikannya dibandingkan dengan keburukannya.
“Maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan”
Yang di sukai olehnya penghuninya yaitu surga
Dan adapun orang-orang yang “ringan timbangannya”
Dimana keburukannya lebih berat dari kebaikannya.
“Maka tempat kembalinya adalah Hawiyah”
Maka rumah dan tempat tinggal yang dia tempati adalah neraka jahannam.
“Dan tahukah kamu”
Apa yang engkau ketahui..? pertanyaan ini untuk membuat takut.
“Apakah Hawiyah itu”
Salah satu nama neraka jahannam
“Dia adalah api yang sangat panas”
Telah tersebut di dalam sunnah, hadist – hadist tentang sifat neraka. Diantaranya hadist oleh Bukhary, Muslim, Malik, dan sebagainya :
Dari Abu Hurairah bahwa nabi bersabda :
“Sesungguhnya api manusia yang kalian nyalakan hanya satu dari tujuh puluh bagian api neraka. Para shahabat berkata : ‘wahai Rasulullah ! andaikan itupun (api dunia yang sepertujuh puluh), maka juga sudah cukup’. Maka Rasul menegaskan : ‘ dia (api neraka) melebihnya (api dunia) sebanyak enampuluh sembilan kali lipat’ “
Imam At Turmudzy dan Ibnu Majah meriwayatkan dari hadist Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasul bersabda :
“ Neraka dinyalakan seribu tahun hingga merah, lalu dinyalakan seribu tahun hingga putih, lalu dinyalakan seribu tahun hingga hitam, dia (neraka) itu hitam gelap”.
Makna Surah Al Qaari’ah
Surah ini mengandung akidah (keyakinan) tentang kebangkitan dan balasan yang didustakan dan sangat diingkari oleh kaum musyrikin. Maka Allah mengabarkan kepada kita tentang hari kiamat yang mengagetkan manusia dengan kejadiannya yang mengerikan dan dahsyat yang berlangsung ketika itu. Dimana manusia bagai anai – anai yang bertebaran dalam satu gabungan yang saling menginjak dan tidak mengetahui jalan.
Dan gunung – gunung walau begitu kokoh, tinggi dan besarnya namun ia berbagaikan kapas yang dibusar dengan pembusar terbang kesana kesini secara berhamburan. Setelah Kiamat selesai, mereka dibawa hingga berada di hadapan Rabbnya untuk perhitungan dan pembalasan amal mereka.
Maka barang siapa yang lebih berat kebaikannya atas keburukanya, maka dia selamat dari api neraka dan berada dalam kehidupan yang memuaskan. Namun begitu juga sebaliknya, akan lemparkan ke neraka Hawiyah dengan posisi kepala berada di bawah. Hawiyah adalah api yang sangat panas yang tidak lebih panas darinya. Dia (Hawiyah) adalah tempat kebinasaan dan kerugian. Semoga Allah Ta’ala memelihara kita.
Faedah
1. Penetapan akidah tentang kebangkitan dan balasan dengan menyebutkan sebagian gambarannya.
2. Peringatan dari kejadian mengerikan pada hari kiamat dan adzab Allah yang ada padannya.
3. Penetapan akidah tentang penimbangan amal shaleh dan keburukan serta balasannya.
4. Penetapan bahwa manusia pada hari kiamat terbagi menjadi dua kelompok di neraka sesuai dengan perbuatan mereka. Satu kelompok di surga dan satu kelompok di neraka.
SUMBER :
Buku dengan judul Asli : Syarhu Ad-Durusi Al-Muhimmati Li ‘Ammati Al-Ummati
Penulis : Al-Allamah as-Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz
Penerbitan Asli : Daru As-Shami’i lin Nasyri wa At-Tauzi’l, Riyadh
Penerjemah : Muhammad Qawwam, Lc
Murajaah : Ust. Qomar Suaidi
Cetakan : Cetakan ketiga, Dzulqa’idah 1430 H / Mopember 2009 M
Penerbit : Cahaya Tauhid Press
http://www.salafy.or.id/aqidah/pelajaran-dari-surah-al-qaariah-hari-kiamat/

Makalah Kewirausahaan dalam Konteks Bisnis



Pembahasan
Kewirausahaan Dalam Konteks Bisnis

A.    Pengertian Kewirausahaan

Kewirausahaan berasal dari kata enterpreneurship yang berarti perilaku dinamis, berani mengambil resiko,   reaktif, dan berkembang. Menurut Impres No. 4 Tahun 1995 tentang GNMMK yaitu Gerakan Nasional Memasyarakatkan dan Membudayakan Kewirausahaan disebutkan bahwa kewirausahaan adalah sikap, semangat, perilaku, dan kemampuan seseorang dalam menangani usaha atau kegiatan yang mengarah pada upaya kerja, teknologi dan produk baru dengan meningkatkan efisiensi dalam rangka memberikan pelayanan yang lebih baik dan keuntungan yang lebih besar.
Kewirausahaan adalah suatu proses seseorang guna mengejar peluang-peluang memenuhi kebutuhan dan keinginan melalui inovasi, tanpa memperhatikan sumber daya yang mereka kendalikan (Menurut Robin, 1996).
Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa kewirauasahaan adalah suatu proses menciptakan sesuatu dengan menggunakan waktu dan kegiatan disertai modal, jasa dan resiko serta menerima balas jasa, kepuasan, dan kebebasan pribadi.

B.     Konsep Konteks Bisnis

Untuk memahami tentang bisnis, pertama kita harus mengetahui apa yang di maksud dengan bisnis.  Bisnis adalah pertukaran barang, jasa, atau uang yang saling menguntungkan atau memberikan manfaat (Skinner, 1992).
Produk yang dihasilkan dan diperdagangkan oleh kegiatan bisnis mencakup keseluruhan tangible goods dan intangible goods.
Pengertian bisnis lainnya diberikan oleh Griffin dan Ebert (1966), “Business is an organization that provides goods or services in order to earn profit.” Sejalan dengan definisi tersebut, aktivitas bisnis melalui penyediaan barang dan jasa bertujuan untuk menghasilkan profit/laba.

·         Etika Bisnis

Pengertian Etika (Etimologi), berasal dari bahasa Yunani adalah “Ethos”, yang berarti watak kesusilaan atau adat kebiasaan (custom). Etika biasanya berkaitan erat dengan perkataan moral yang merupakan istilah dari bahasa Latin, yaitu “Mos” dan dalam bentuk jamaknya “Mores”, yang berarti juga adat kebiasaan atau cara hidup seseorang dengan melakukan perbuatan yang baik (kesusilaan), dan menghindari hal-hal tindakan yang buruk.
Etika dan moral lebih kurang sama pengertiannya, tetapi dalam kegiatan sehari-hari terdapat perbedaan, yaitu moral atau moralitas untuk penilaian perbuatan yang dilakukan, sedangkan etika adalah untuk pengkajian sistem nilai-nilai yang berlaku. Etika adalah Ilmu yang membahas perbuatan baik dan perbuatan buruk manusia sejauh yang dapat dipahami oleh pikiran manusia.
Ø  Terminius Techicus, Pengertian etika dalam hal ini adalah, etika dipelajari untuk ilmu pengetahuan yang mempelajari masalah perbuatan atau tindakan manusia.
Ø  Manner dan Custom, Membahas etika yang berkaitan dengan tata cara dan kebiasaan (adat) yang melekat dalam kodrat manusia (In herent in human nature) yang terikat dengan pengertian “baik dan buruk” suatu tingkah laku atau perbuatan manusia.

C.    Kepemimpinan Usaha Dalam Konteks Bisnis

Pengertian Kepemimpinan dalam suatu organisasi bisnis, kepemimpinan merupakan faktor yang sangat penting dalam menentukan pencapaian tujuan yang telah ditetapkan oleh organisasi. Kepemimpinan merupakan titik sentral dan penentu kebijakan dari kegiatan yang akan dilaksanakan dalam organisasi. Kepemimpinan adalah aktivitas untuk mempengaruhi perilaku orang lain agar supaya mereka mau diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu (Thoha, 1983:123). Sedangkan menurut Robbins (2002:163) Kepemimpian adalah kemampuan untuk mempengaruhi suatu kelompok untuk mencapai tujuan.

Dari pengertian diatas kepemimpinan mengandung beberapa unsur pokok antara lain:
1)      Kepemimpinan melibatkan orang lain dan adanya situasi kelompok atau organisasi tempat pemimpin dan anggotanya berinteraksi,
2)      Didalam kepemimpinan terjadi pembagian kekuasaan dan proses mempengaruhi bawahan oleh pemimpin, dan
3)      Adanya tujuan bersama yang harus dicapai.

Dari uraian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa kepemimpinan adalah kemampuan untuk mempengaruhi perilaku seseorang atau sekelompok orang untuk mencapai tujuan tertentu pada situasi tertentu.

Kepemimpinan merupakan masalah sosial yang di dalamnya terjadi interaksi antara pihak yang memimpin dengan pihak yang dipimpin untuk mencapai tujuan bersama, baik dengan cara mempengafuhi, membujuk, memotivasi dan mengkoordinasi. Dari sini dapat dipahami bahwa tugas utama seorang pemimpin dalam menjalankan kepemimpinannya tidak hanya terbatas pada kemampuannya dalam melaksanakan program-program saja, tetapi lebih dari itu yaitu pemimpin harus mempu melibatkan seluruh lapisan organisasinya, anggotanya atau masyarakatnya untuk ikut berperan aktif sehingga mereka mampu memberikan kontribusi yang positif dalam usaha mencapai tujuan.

D.    Langkah Usaha Dalam Berbisnis

1.      Faktor-faktor Motivasi Berwirausaha

Ciri-ciri wirausaha yang berhasil (Kasmir)
a)      Memiliki visi dan tujuan yang jelas. Hal ini berfungsi untuk menebak ke mana langkah dan arah yang dituju sehingga dapat diketahui langkah yang harus dilakukan oleh pengusaha tersebut
b)      Inisiatif dan selalu proaktif. Ini merupakan ciri mendasar di mana pengusaha tidak hanya menunggu sesuatu terjadi, tetapi terlebih dahulu memulai dan mencari peluang sebagai pelopor dalam berbagai kegiatan.
c)      Berorientasi pada prestasi. Pengusaha yang sukses selalu mengejar prestasi yang lebih baik daripada prestasi sebelumnya. Mutu produk, pelayanan yang diberikan,serta kepuasan pelanggan menjadi perhatian utama. Setiap waktu segala aktifitas usaha yang dijalankan selalu dievaluasi dan harus lebih baik disbanding sebelumnya.
d)     Berani mengambil risiko. Hal ini merupakan sifat yang harus dimiliki seorang pengusaha kapanpun dan dimanapun, baik dalam bentuk uang maupun waktu.
e)      Kerja keras. Jam kerja pengusaha tidak terbatas pada waktu, di mana ada peluang di situ dia datang. Kadang-kadang seorang pengusaha sulit untuk mengatur waktu kerjanya. Benaknya selalu memikirkan kemajuan usahanya. Ide-ide baru selalu mendorongnya untuk bekerja kerjas merealisasikannya. Tidak ada kata sulit dan tidak ada masalah yang tidak dapat diselesaikan.
f)       Bertanggungjawab terhadap segala aktifitas yang dijalankannya, baik sekarang maupun yang akan datang. Tanggungjawab seorang pengusaha tidak hanya pada segi material, tetapi juga moral kepada berbagai pihak.
g)      Komitmen pada berbagai pihak merupakan ciri yang harus dipegang teguh dan harus ditepati. Komitmen untuk melakukan sesuatu memang merupakan kewajiban untuk segera ditepati dana direalisasikan.
h)      Mengembangkan dan memelihara hubungan baik dengan berbagai pihak, baik yang berhubungan langsung dengan usaha yang dijalankan maupun tidak. Hubungan baik yang perlu dlijalankan, antara lain kepada : para pelanggan, pemerintah, pemasok, serta masyarakat luas.

Memulai Usaha/Bisnis Baru
Menurut Peggy Lambing dan Charles R. Kuehl (2000:14) ada tiga tipe aktivitas kewirausahaan, yakni:
1.    Dengan konsep baru dan bisnis baru, yaitu dengan mengembangkan produk baru atau ide baru, dan mengembangkan bisnis dengan konsep baru. Seperti Bill Gates dengan Microsoft.
2.    Konsep yang sudah ada, tetapi dengan bisnis baru, yakni orang yang memulai bisnis baru berdasar pada konsep lama dengan menyediakan sesuatu yang baru atau lebih baik.
3.    Dengan konsep yang sudah ada dan bisnis yang sudah ada, yakni orang yang membeli perusahaan yang sudah ada tanpa perencanaan untuk mengubah operasi perusahaan.

Delapan anak tangga menuju puncak karir berwirausaha (Alma, 106 – 109), terdiri atas :
1.      Mau kerja keras (capacity for hard work)
2.      Bekerjasama dengan orang lain (getting things done with and through people)
3.      Penampilan yang baik (good appearance)
4.      Yakin (self confidence)
5.      Pandai membuat keputusan (making sound decision)
6.      Mau menambah ilmu pengetahuan (college education)
7.      Ambisi untuk maju (ambition drive)
8.      Pandai berkomunikasi (ability to communicate)

E.     Manfaaat dan Resiko Dalam Berbisnis

Ø  Manfaat Berbisnis

Ada beberapa manfaat berbisnis, antara lain :
·         Kebebasan menentukan masa depan sendiri
Dalam berbisnis belum tentu kita akan berhasil, apalagi menjadi kaya. Tenang saja, jangan sampai pernyataan ini membuat semangat kita kendor dalam berbisnis. Ini hanya persentase yang kecil dibandingkan dengan yang berhasil dan meraih kekayaan dengan berbisnis.
Namun apabila kesuksesan dan kekayaan tidak dapat kita hasilkan dengan berbisnis, tetapi paling tidak kita telah mendapatkan hasil azasi yang paling hakiki, yaitu kebebasan menentukan masa depan sendiri. Harga sebuah kebebasan sulit bahkan tidak dapat dinilai. Bayangkan bagaimana jadinya negeri kita ini, seandainya terus-menerus dijajah oleh Bangsa asing tanpa adanya kebebasan.

·         Membuka lapangan kerja
Dengan berbisnis, kita juga membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain, walaupun pada awalnya hanya mempekerjakan dua sampai tiga orang, lumayan lah membantu program pemerintah mengurangi angka pengangguran. Bagaimana kalau seribu pebisnis muncul dan masing-masing merekrut 2 sampai 3 orang karyawan, maka 2000 sampai 3000 orang pengangguran terserap. Membuka lapagan pekerjaan adalah perbuatan mulia karena mengurangi pengangguran dan memberikan penghidupan yang lebih layak bagi orang lain.

·         Meningkatkan status ekonomi dan sosial
Dengan berbisnis dapat meningkatkan status ekonomi dan status sosial, dari yang sebelumnya seorang pengangguran tanpa adanya penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidup, otak yang tidak terasah, dan harga diri yang rendah, sekarang dapat bekerja dan merasa berharga di mata keluarga dan masyarakat.

Manfaat kewirausahaan menurut para ahli

Dari beberapa penelitian mengedintifikasi bahwa pemilik bisnis mikro, kecil, atau percaya bahwa mereka cenderung bekerja lebih keras, menghasilkan lebih banyak uang, dan lebih membanggakan daripada bekerja di suatu perusahaan besar. Sebelum mendirikan usaha, setiap calon wirausaha sebaiknya mempertimbangkan manfaatkepemilikikan bisnis mikro, kecil atau menengah.
Thomas W Zimmerer et al. (2005) merumuskan manfaat kewirausahaan adalah sebagai berikut:
1.      Memberi peluang dan kebebasan
Kewirausahaan memberi peluang dan kebebasan untuk mengendalikan nasib sendiri memiliki usaha sendiri akan memberikan kebebasan dan peluang bagi pebisnis untuk mencapai tujuan hidupnya. Pebisnis akan mencoba memenangkan hidup mereka dan memungkinkan mereka untuk memanfaatkan bisnisnya guna untuk untuk mewujudkan cita-citanya.
2.      Memberi peluang melakukan perubahan
Semakin banyak bisnis yang memulai usahanya karena mereka dapat menagkap peluang untuk melakukan berbagai perubahan yang menurut mereka sangat penting.
3.      Memberi peluang untuk mencapai potensi diri sepenuhnya
Banyak orang menyadari bahwa bekerja di suatu perusahaan seringkali membosankan, kurang menantang dan tidak ada daya tarik. Hal ini tentu tidak berlaku bagi seorang wirausahawan, bagi mereka tidak banyak perbedaan antara bekerja atau menyalurkan hobi atau bermain, keduanya sama saja.
4.      Memiliki peluang untuk meraih keuntungan
Walaupun pada tahap awal uang bukan daya tarik utama bagi wirausahawan, keuntungan berwirausahawan merupakan faktor motivasi yang penting untuk mendirikan usaha sendiri, kebanyakan pebisnis tidak ingin menjadi kaya raya, tetapi kebanyakan diantara mereka yang menang menjadi berkecukupan. Hampir 75% yang termasuk dalam daftar orang terkaya (Majalah Forbes) merupakan wirausahawan generasi pertama.
5.      Memiliki peluang untuk berperan aktif dalam masyarakan dan mendapatkan pengakuan atas usahanya
Pengusaha atau pemilik usaha kecil seringkali merupakan warga masyarakat yang paling dihormati dan dipercaya. Kesepakatan bisnis berdasarkan kepercayaan dan saling merhormati adalah ciri pengusaha kecil.Pemilik menyukai kepercayaan dan pengakuan yang diterima dari pelanggan yang telah dilayani dengan setia selam bertahun-tahun.
6.      Memiliki peluang untuk melakukan sesuatu yang disukai dan menumbuhkan rasa senang dalam mengerjakan
Hal yang didasarkan oleh pengusaha kecil atau pemilik perusahaan kecil adalah bahwa kegiatan usaha mereka sesungguhnya bukan kerja. Kebanyakan kewirausahawan yang berhasil memilih masuk dalam bisnis tertententu, sebab mereka tertarik dan mrenyukai pekerjaan tersebut. Mereka menyalurkan hobi atau kegemaran mereka menjadi pekerjaan mereka dan mereka senang bahwa mereka melakukannya. Wirausahawan harus mengikutu nasihat Harvey McKey. Menurut McKey: “Carilah dan dirikan usaha yang anda sukai dan anda tidak akan penrnah terpaksa harus bekerja sehari pun dalam hidup anda”

Ø  Jenis-jenis Resiko dalam Berbisnis

Jenis-Jenis Resiko dalam Bisnis
Sebagai seorang pemula, entrepreneur yang akan berbisnis perlu mengenal beberapa resiko yang sering dijumpai dalam bisnis, khususnya start-up business, yaitu:
1)      Resiko Murni
Resiko murni adalah resiko yang muncul sebagai akibat dari sebuah situasi atau keputusan yang konsekuensinya adalah kerugian. Beberapa bentuk resiko murni yang sering muncul diantaranya adalah:
a)      Resiko hilang/rusaknya aset yang dimiliki yang diakibatkan kebakaran, pencurian, penggelapan, dan sebagainya.
b)      Kecelakaan kerja pada proses produksi.
c)      Resiko akibat tuntutan hukum pihak lain, misalnya keracunan dari makanan yang anda jual, tuntutan konsumen akibat kelalaian kita, dan sebagainya.
d)     Resiko operasional lainnya.
e)      Bencana alam (force majeure), seperti banjir, gempa, angin topan, dan sebagainya.
2)      Resiko Spekulatif
Resiko spekulatif adalah resiko yang muncul akibat situasi atau keputusan yang konsekuensinya bisa berupa keuntungan ataupun kerugian. Contoh resiko spekulatif diantaranya adalah:
a)      Resiko Perubahan Harga
Harga pasar suatu produk, jasa, atau komoditi dapat berubah-ubah. Ini dapat naik maupun turun. Terkait dengan perubahan harga input, jika harga input naik, maka perusahaan dapat mengalami kerugian penurunan marjin keuntungan. Sebaliknya, jika harga input turun, maka perusahaan dapat mengalami keuntungan, yaitu berupa kenaikan marjin keuntungan.
Terkait dengan harga output, jika harga output naik, maka perusahaan akan mengalami keuntungan karena naiknya marjin keuntungan. Sementara, jika harga output turun, maka perusahaan akan mengalami kerugian, yaitu berupa penurunan marjin keuntungan.
b)      Resiko Kredit
Resiko kredit adalah resiko yang muncul dari transaksi kredit, seperti utang dagang. Jika pihak yang kita berikan kredit mengalami gagal bayar, maka kita akan mengalami kerugian.

F.     Prinsip Dalam Kewirausaahaan
            Prinsip-Prinsip Kewirausahaan Menurut Para Ahli
Menurut Dhidiek. D. Machyudin prinsip dalam berwirausaha adalah sebagai berikut:
1. Harus optimis
2. Ambisius
3. Dapat membaca peluang pasar
4. Sabar
5. Jangan putus asa
6. Jangan takut gagal
7. Kegagalan pertama dan kedua itu biasa, anggaplah kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda.
Sedangkan khafidhul ulum mengemukakan prinsip kewirausahaan sebagai berikut :
1. Passion (semangat)
2. Independan (mandiri)
3. Marketing sensitivity (kreatif dan inovatif)
4. Calculated risk taker (mengambil resiko penuh perhitungan )
5. Persisten (pantang menyerah)
6. High ethical standart (berdasarkan standar etika)
Apabila pendapat dhidiek D. Machayudin dan kafidhul ulum tersebut digabungkan, maka paling tidak terdapat 13 prinsip dalam berwirausaha yaitu :
1) Jangan takut gagal
Banyak yang berpendapat bahwa untuk berwirausaha di anolakkan dengan impian seseorang untuk dapat berenang.Walaupun teori mengenai berbagai gaya berenang sudah dikuasai dengan baik dan literature sudah lengkap, tidak ada gunanyakalau tidak diikutu dengan nyebur kedalam air (peraktek berenang). Demikian halnya untuk berusaha, tidak ada gunanya berteori kalau tidak terjun paying, sehinggamengalami(berpengalaman), dan sekali lagi jangan takut gagal, sebab kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda.
2) Semangat
Dari nasehat Harvey mckey (pada nomor 1) hal yang menjadi penghargaan terbesar bagi wirausahaan bukanlah tujuannya, melainkan lebih kepada proses dan atau perjalanannya. Dari sarana ini, maka bersemangatlah dalam usaha anda, pasti kedepannya akan berhasil.
3) Kreatif dan inovatif
Kreativitas dan inovasi adalah model utama bagi seorang wirausaha. Seorang wirausaha tidak boleh berhenti berkreasi dan berinovasi dalam segala hal. Berfikir kreatif merupakan sebuah proses yang dapat dikembangkan dan ditingkatkan. Namun setiap orang memiliki kemampuan kretif berbeda. Selama ini ada anggapan yang salah mengenai orang yang kreatif. ada yang mengatakan hanya orang kjenius atau orang pintar saja yang memiliki kratifitas. Kreatifitas bukanlah suatu bakat misterius yang diperuntukakkan bagi sekelompok orang tertentu.
Kreatifitas dimiliiki oleh semua orang dan dapat ditingkatkan, oleh sebab itu harus dipupuk dan dikembangkan agar tidak terpendam dan tidak dapat diwujudkan. Proses berfikir kreatif dilakukan secara sistematis dan memaluli tahap-tahapan berikut :
1. pengumpulan informasi
2. proses inkubasi
3. melahirkan ide
4. evaluasi dan tindak lanjut (menjadi wurausaha sukses)
Disamping kreatif, juga dituntut inovatif, berikut pola pikir inofatif :
1. Imajinatif
2. Spekulatif
3. Konseptual
4. Interpersonal
5. Impulsif
6. Belajar, mau bertanya
7. Mencari
8. Reseptif
4) Bertindak dengan penuh perhitungan dalam mengambil resiko .
Resiko selalu ada dimanapun berada. Sering kali kita menghindar dari resiko dari yang satu, tetapi memenuhi resiko yang lainnya. Namun yang harus dipertimbangkan adalah perhitungan dengan sebaik-baiknya sebelum memutuskan sesuatu, terutama dalam bisnis yang tingkat resikonya tinggal.
Sering kali menjadi pertimbangan utama dalam berusaha terutama dalam pengambilan keputusan bukan hanya pada seberapa besar manfaat atau keuntungan yang akan di peroleh, tetapi pada seberapa besar kemungkinan kita mampu menanggung resiko dan seberapa kita mampu menanggung kerugian atas konsekuensi dari sebuah keputusan.
5) Sabar, ulet dan tekun
Prinsip lain yang tidak kalah penting dalam berusaha dalah kesabaran dan ketekunan meskipun harus menghadapi berbagai bentuk permasalahan, percobaan dan kendala, bahkan diremekan oleh orang lain.
6) Harus optimis
Optimis adalah modal usaha yang cukup penting bagi usahawan, sebab kata optimis merupakan sebuah prinsip yang dapat memotivasi kesadaran kita, sehingga apapun usaha yang kita lakukan harus penuh optimis bahwa usaha yang kita jalankan akan sukses. Dengan optimis, kita akan semakin yakin bahwa yang kita kerjakan akan berhasil dengan baik.
7) Ambisius
Demikian juga prinsip ambisius, seorang wirausahawan harus berambisi, apapun jenis usaha yang akan dikelola.
8) Pantang menyerah / jangan putus asa
Prinsip pantang menyerah adalah bagian yang harus dilakukan kapanpun waktunya. Entah dalam kondisi mendukung maupun kurang mendukung atau bahkan usaha kita mengalami kemunduran, tetapi tidak boleh putus asa. Orang yang tidak mudah putus asa akan lebih menarik dan dikagumi oleh orang-orang sekitarnya.
9) Peka terhadap pasar atau baca peluang pasar
Prinsip peka terhadap pasar atau dapat membaca peluang pasar adalah prinsip mutlak yang harus dilakukan oleh wirausahawan, baik pasar ditingkat local, regional, maupun internasional.Peluang pasar sekecil apapun harus di identifikasi dengan baik sehingga dapat mengambil peluang pasar tersebut dengan baik.
10) Berbisnis dengan standar etika
Prinsip bahwa setiap pebisnis harus senantiasa memegang standar etika yang berlaku secara universal. Yang menjadi perhatian adalah apakah standar etika yang berlaku disetiap Negara dikenali dengan baik dan disesuaikan dengan budaya bangsa yang besangkutan. Indonesia memiliki undang-undang perlindungan konsumen yang dapat dipakai sebagai salah satu pegangan dalam etika berbisnis.
11) Mandiri
Prinsip kemandirian harus menjadi panduan dalam berwirausaha. Mandiri dalam banyak hal adalah kunci penting agar kita dapat menghindari ketergantungan dari pihak-pihak atau para pemangku kepentingan atas usaha kita.
12)  Jujur
Menurut pytagoras kejujuran adalah mata uang yang akan laku di mana-mana. Jadi, jujur kepada pemasok dan pelanggan, atau kepada seluruh pemangku kepentingan perusahaan adalah prinsip dasar yang harus di nomor satukan dalam berusaha.
13) Peduli lingkungan
Pengusaha harus peduli juga terhadap lingkungan sekitarnya, turut menjaga kelastarian lingkungan dimana tempat usahanya berada.

G.    Fungsi Wirausaha

Pada dasarnya manusia membutuhkan makan, minum, pakaian, dan sebagainya. Kebutuhan itu akan semakin meningkat seiring dengan kemajuan zaman yang menuntun manusia untuk melakukan kegiatan konsumtif. Pengangguran yang semakin meningkat kalau tidak ditanggulangi akan membuat manusia berpotensi ke arah negatif. Oleh karena itu, dibutuhkan jiwa kewirausahaan bagi setiap manusia sehingga menekan jumlah pengangguran.
Setiap Wirausaha memiliki fungsi pokok dan fungsi tambahan sebagai berikut:
1.    Fungsi pokok wirausaha yaitu:
·         Membuat keputusan-keputusan penting dan mengambil resiko tentang tujuan dan sasaran perusahaan.
·         Memutuskan tujuan dan sasaran perusahaan.
·         Menetapkan bidang usaha dan pasar yang akan dilayani.
·         Menghitung skala usaha yang diinginkannya.
·         Menentukan modal yang diinginkan (modal sendiri atau modal dari luar).
·         Memilih dan menetapkan  kriteria pegawai/karyawan dan memotivasinya.
·         Mengendalikan secara efektif dan efesien.
·         Mencari dan menciptakan cara baru.
·         Mencari terobosan baru dalam mendapatkan masukan atau input serta mengelolahnya menjadi barang atau jasa yang menarik.
·         Memasarkan barang dan jasa tersebut untuk memuaskan pelanggan dan sekaligus dapat memperoleh dan mempertahankan keuntungan maksimal.
2.    Fungsi tambahan wirausaha, yaitu:
·         Mengenali lingkungan perusahaan dalam rangka mencari dan menciptakan peluang usaha.
·         Mengendalikan lingkungan ke arah yang menguntungkan bagi perusahaan.
·         Menjaga lingkingan usaha agar tidak merugiakan masyarakat mauoun merusak lingkungan akibat dari limbah usaha yang mungkin dihasilkannya.
·         Meluangkan dan peduli atas CSR. Setiap pengusaha harus peduli dan turut serta bertanggung jawab terhadap lingkungan sekitar.












Daftar Pustaka