Manfaat beriman
pada hari akhir
Keyakinan kepada hari akhirat akan memberikan beberapa
hikmah kepada orang yang mengimaninya, sebagai berikut:
1. Tidak akan meniru pola hidup orang kafir (yang tidak
beriman).
“Janganlah sekali-kali kamu
terperdaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak di dalam negeri. Itu
hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka ialah Jahanam;
dan Jahanam itu adalah tempat yang seburuk-buruknya.” (QS 3:196-197)
Allah SWT telah memperingatkan kita
supaya tidak terpedaya dan ikut-ikutan gaya hidup orang kafir, yang penuh
dengan kebebasan (foya-foya, dugem, mabok, free sex, dll). Itu adalah
kesenangan sementara saja, selama hidup didunia. Tetapi akibatnya ditanggung
selama-lamanya didalam neraka jahanam. Naudzubillahi min dzaalik.
2. Selalu beramal sholeh dan meningkatkan ketakwaan.
2. Selalu beramal sholeh dan meningkatkan ketakwaan.
Orang yang beriman dengan adanya
hari akhir yakin dan mengharap akan bertemu dengan Allah, oleh karena itu dia
akan selalu berusaha beramal sholeh dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah.
Sehingga ketika menemui-Nya dalam keadaan siap.
“… Dan kerjakanlah (amal yang baik)
untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan
menemui-Nya. Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman.” (QS 2:223)
“... Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya". (QS 18:110)
3. Selalu berbuat baik dan benar.
Orang yang beriman kepada hari akhir akan selalu berbuat
baik dan benar dalam hidupnya.
“Dan takutlah kamu kepada suatu hari
di waktu seseorang tidak dapat menggantikan seseorang lain sedikit pun dan
tidak akan diterima suatu tebusan daripadanya dan tidak akan memberi manfaat
sesuatu syafaat kepadanya dan tidak (pula) mereka akan ditolong.” (QS 2:123)
Mengapa harus baik dan benar? Karena
perbuatan baik belum tentu benar, tetapi perbuatan benar sudah pasti baik.
Misalnya, perbuatan menolong orang adalah baik, tetapi belum tentu benar.
Menolong orang dalam rangka apa? Apakah menolong dalam rangka kebaikan dan
takwa, atau dalam rangka dosa. Menolong orang berbuat dosa atau jahat adalah
tidak benar dan tidak dibenarkan dalam Islam.
“… Dan tolong-menolonglah kamu dalam
(mengerjakan) kebaikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa
dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat
berat siksa-Nya.” (QS 5:2)
Bukan hanya harus melakukan
perbuatan baik dan benar, perkataan pun harus baik dan benar, sebagaimana sabda
Rasulullah saw:
“Barangsiapa beriman kepada Allah
dan hari akhir hendaklah ia berhata benar atau diam.” (HR Bukhari dan Muslim)
4. Mau berjihad dijalan Allah dengan jiwa dan harta.
Berjihad bagi orang yang beriman
kepada hari akhir adalah sebuah kemestian, karena jihad dengan jiwa dan harta
merupakan jual beli seorang mukmin dengan Allah, serta merupakan pembenaran
atas keimanannya.
“Sesungguhnya Allah telah membeli
dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk
mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh.
(Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al
Qur'an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka
bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah
kemenangan yang besar.” (QS 9:111)
“Sesungguhnya orang-orang yang
beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian
mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada
jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS 49:15)
5. Tidak bakhil (kikir) dalam berinfaq.
Ketika seseorang beriman kepada hari
akhir, ia akan selalu berinfak dijalan Allah dengan tidak kikir. Karena ia tahu
akibat kikir terhadap hartanya itu dikemudian hari, serta ia tahu pahala yang
berlipat ganda yang diterimanya bila ia berinfak dijalan Allah SWT.
“Sekali-kali janganlah orang-orang
yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya
menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu
adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan
kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang
ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS
3:180)
“Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat
lagi pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya, dia mengira
bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya, sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia
benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah. Dan tahukah kamu apa Huthamah
itu? (yaitu) api (yang disediakan) Allah yang dinyalakan, yang (membakar)
sampai ke hati. Sesungguhnya api itu ditutup rapat atas mereka, (sedang “mereka
itu) diikat pada tiang-tiang yang panjang.” (QS 104:1-9)
“Perumpamaan (nafkah yang
dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah
serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir:
seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki.
Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. Orang-orang yang
menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang
dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak
menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan
mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih
hati.” (QS 2:261-262)
6. Memiliki kesabaran dalam kebenaran dan ketika tertimpa
musibah.
Ketika keimanan kepada hari akhir tertanam dalam hati, maka orang itu akan selalu sabar dalam kebaikan dan dalam keadaan apapun. Meskipun musibah menimpa dirinya, ia akan tetap sabar bahkan meningkatkan kesabarannya.
Ketika keimanan kepada hari akhir tertanam dalam hati, maka orang itu akan selalu sabar dalam kebaikan dan dalam keadaan apapun. Meskipun musibah menimpa dirinya, ia akan tetap sabar bahkan meningkatkan kesabarannya.
“Hai orang-orang yang beriman,
bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di
perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung.” (QS
3:200)
“Dan sungguh akan Kami berikan
cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa
dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar,
(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan,
"Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun" (QS 2:155-156)
Ia tahu bahwa dunia ini hanya sementara, semua akan mati. Penderitaan didunia hanyalah sementara, segala sesuatu akan disempurnakan diakhirat nanti, sebagaimana firman Allah SWT:
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan
mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang
siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia
telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang
memperdayakan.” (QS 3:185)
2. Dengan beriman kepada hari akhir, hidup kita
menjadi lebih optimis. Kita lebih giat belajar dan bekerja agar memperoleh
kebahagian di dunia. Jika kita bahagia, maka hidup kita akan tenang. Jika hidup
tenang, maka kesempatan kita untuk beribadah dan melakukan kebajikan akan lebih
besar. Dengan demikian insya-Allah kita dapat meraih kebahagian di dunia dan di
akhirat. Seandainya kita belum beruntung di dunia, kita masih punya harapan
untuk memperoleh keberuntungan di akhirat, asalkan kita bertaqwa kepada Allah
SWT. Allah Maha Pengasih dan Maha Penyanyang. Dia akan member kepada siapa saja
yang meminta, walaupun seseorang itu tidak taat kepada perintah-Nya. Akan
tetapi Allah hanya menyayangi orang-orang yang beriman di akhirat kelak.
3. Iman kepada hari akhir menumbuhkan sifat ikhlas beramal, karena pengadilan Allah adalah pengadilan yang Maha Adil, maka akan tumbuh dalam diri kita niat untuk ikhlas beramal. Di akhirat setiap orang diminta pertanggungjawaban masing-masing. Orang yang ikhlas, ketika beribadah, ia tidak mengharapkan imbalan dari orang lain, kecuali ridha Allah. Orang yang ikhlas selalu giat bekerja diawasi orang atau tidak, ia tetap rajin.
4. Menjauhkan diri dari perbuatan maksiat, dengan menyakinkan akan adanya neraka, tempat orang-orang yang penuh dosa dan perbuatan maksiatnya melebihi amal baiknya, maka kita berusah menghidari tempat terkutuk itu. orang yang tidak beriman kepada hari Kahir, dia tidak mengetahui bahwa setelah mati aka nada kehidupan yang jauh lebih panjang daripada kehidupan di dunia, ia juga yakin akan adanya nereka tempat penyiksaan orang-orang yang berdosa. Oleh sebab itu dengan seenaknya mereka mengerjakana kemaksiatan
3. Iman kepada hari akhir menumbuhkan sifat ikhlas beramal, karena pengadilan Allah adalah pengadilan yang Maha Adil, maka akan tumbuh dalam diri kita niat untuk ikhlas beramal. Di akhirat setiap orang diminta pertanggungjawaban masing-masing. Orang yang ikhlas, ketika beribadah, ia tidak mengharapkan imbalan dari orang lain, kecuali ridha Allah. Orang yang ikhlas selalu giat bekerja diawasi orang atau tidak, ia tetap rajin.
4. Menjauhkan diri dari perbuatan maksiat, dengan menyakinkan akan adanya neraka, tempat orang-orang yang penuh dosa dan perbuatan maksiatnya melebihi amal baiknya, maka kita berusah menghidari tempat terkutuk itu. orang yang tidak beriman kepada hari Kahir, dia tidak mengetahui bahwa setelah mati aka nada kehidupan yang jauh lebih panjang daripada kehidupan di dunia, ia juga yakin akan adanya nereka tempat penyiksaan orang-orang yang berdosa. Oleh sebab itu dengan seenaknya mereka mengerjakana kemaksiatan
a.
Senantiasa menjaga diri untuk selalu taat kepada Allah SWT dan senantiasa
mengharapkan pahala pada Hari Kiamat. Ia akan berusaha menjauhi segala
laranganNya karena takut siksaan kelak di kemudian hari.
b.Menghibur dan mendorong agar bershabar bagi mukmin bahwa kebahagian
(kesenangan, kesejahteraan) yang belum diperolehnya di dunia akan diterimanya
di kemudian hari.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar